Hujan, tanah jadi basah, baunya menyebarkan suasana khas.. bau tanah basah ya seperti itu lah.. Sudah beberapa hari tidak hujan, mendadak sore ini turun rintik-rintik kemudian menderas. Tanah di sekelilingku yang tadinya hanya lembab berubah menjadi kubangan-kubangan di sana-sini.

Jadi ingat, hujan di awal bulan Desember 3 tahun lampau. Seharusnya yang aku ingat adalah kebahagiaan akan sebuah perjumpaan. Tapi kenapa justru yang terus melekat adalah memori tersayatnya hati oleh kamuflase rasa (ini istilah kerenku sendiri). Masih terus terbayang ketika aku menutup mata, sore itu, saat hujan, dingin di sekeliling seperti bekunya perasaanku yang sudah tidak karuwan namun mencoba untuk bertahan (bahkan hingga hari ini pun ternyata aku tetap bertahan). Tangannya dingin, dia minta aku menggenggam sebelah tangannya sementara sebelah yang lain memegang stir. Hujan sepanjang jalan di sore itu seolah mentasbihkan suasana hatiku yang murung. Seharusnya hari itu aku bahagia, karena berjumpa dia. Meski aku juga sudah menduga, bahwa dari bibirnya kan kudengar jawaban yang berbeda dengan janjinya. Bahkan saat pertama itu pun, janjinya sudah diingkari dengan alasan yang pura-pura. Namun aku tetap saja bertahan, pada jalanku, pada mimpi semuku, pada angan-angan kosongku tentang dia (bahkan hingga detik ini pun aku masih bertahan).

Desember, apakah ini juga akan menjadi akhir dari semuanya? Tinggal esok hari aku melangkah masuk ke bulan Desember dan aku belum juga menentukan arahku. Kenapa juga harus Desember, bukan bulan yang lain. Apakah semua awal dan akhir memang benar-benar ada di bulan ke-12 ini? Entahlah.. Jalanku masih berliku dan panjang, penuh dengan berbagai pertanyaan. Aku ingin segera mengakhiri kerumitan yang aku ciptakan sendiri, tapi sepertinya aku terlanjur lama berkutat di sini dan sulit untuk berlari. Berkali-kali sudah aku bicara dengan diriku sendiri, sudah saatnya aku berhenti memikirkan orang lain dan peduli pada diri sendiri. Egois demi kebaikan diri sendiri, dan tidak membiarkan terus-menerus berkorban perasaan karena orang lain. Tapi tetap saja sulit untuk memutuskan jalan mana yang akan aku ambil segera. Hanya Tuhan yang tahu mengapa…

 

yen aku ditakoni, atimu kanggo sapa? saiki aku ora ngerti arep mangsuli apa. wingi-wingi menawa aku takon marang awakku dhewe atiku kanggo sapa, rumangsaku “dheke” kuwi wangsulane. uwong sing saka rumangsaku tak tresnani ing sak jeroning ati nanging ora isa kasembadan. rasa sing mung tak simpen lan ora ana sing ngerti.

nanging saiki, aku duwe pitakonan maneh tumrap atiku dhewe, sejatine apa sing tak rasakke wingi-wingi kuwi bener-bener tresna? yen aku bener tresna, kenapa atiku lara? yen aku ora tresna, kenapa aku pasrah lahir batin senadyan dheke nglarani atiku?

2009, apa meneh sing arep tak temoni? aku durung isa ngilangi kabeh sing tak rasakke. aku isih pengen ana dheke, senadyan aku ngerti kuwi ora ana gunane amarga dheke wis ana sisihanne.

if this is love, then i put my heart in a burdened place, yet to lose him i feel deeply flood by his charm, since i surrender myself – my heart – my body – my soul – only for him, for many nights we had spent together.

semoga aku masih terus diberi kekuatan untuk mengelola rasa kecewa, jengkel, kesal, dan perasaan negatif lain yang timbul di tempat kerjaku. aku hanya berusaha membuat pekerjaanku terorganisir, teratur, tepat waktu, sehingga aku tidak kesulitan pada hari-hari berikutnya. tapi sepertinya kalau sudah bos yang bilang, susah juga diperbaiki…

mundur dan mundur dengan mudah dilakukan kalau itu berhubungan dengan bos, sedangkan kalau tiba saat itu “deadline” kita, biar nggak tidur juga harus selesai, biar hari libur juga harus dikerjakan, tidak ada waktu untuk santai dan mengulur waktu, atau… kita akan kena damprat bos karena dianggap menyepelekan calon klien kita, tidak segera merespon. memang kalau demikian kondisinya, seorang bos jadi diperbolehkan dan dimaklumi untuk tidak konsisten terhadap “standart” yang ada di perusahaan, terlebih kalau memang tidak ada panduan baku soal ketepatan waktu merespon klien.

nah.. berhubung aku adalah anak gembala… eh aku adalah staf yang selalu ada pada posisi kalah, makanya aku memilih untuk diam dan menahan diri, daripada nanti aku diberi hadiah kata-kata mutiara yang indah dan berkesan oleh bos. dalam diam ku itu, aku kemudian memutuskan untuk ambil cuti, pulang…  setidaknya, di rumah aku bisa santai bermain dengan ponakanku yang menggemaskan, daripada gemas pada bos tapi nggak bisa apa-apa.

apalagi bos juga pernah bilang padaku, kalau aku jengkel sama seseorang ya ditinggal pergi aja… dan aku menuruti kata-kata beliau itu, karena aku jengkel pada beliau dan aku tidak bisa berbuat apa-apa, ya mending aku tinggal pergi saja dia… anak buah yang benar-benar patuh pada saran bos kan???

“Piglet sidled up to Pooh from behind. ‘Pooh?’ he whispered.

‘Yes, Piglet?’

‘Nothing,’ said Piglet, taking Pooh’s hand. ‘I just wanted to be sure of you.”

— A.A. Milne (Winnie-the-Pooh)

 

Benar kata seorang teman, perasaan dibutuhkan itu akan muncul tidak hanya dari sentuhan atau permintaan yang berat, tapi cukup dengan sebuah sapaan perhatian. Aku pernah merasakan itu sekali saja dalam beberapa waktu terakhir ini, dan itu membuatku sedikit merasa berarti buat dia, seorang teman yang dekat di mata namun jauh di hati – meskipun aku tak tahu apakah “sapaan” itu tulus atau dibuat-buat. Semoga dia benar-benar tulus waktu itu..

bulan depan, genap setahun aku merantau di tanah orang, berkumpul dan berhubungan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak aku kenal, orang-orang dengan karakteristik yang berbeda, dan kehidupan yang berbeda pula.

waktu itu, sebelum aku melangkah ke dunia baru ini, aku berharap bisa menumbuhkan masa depan di sini, menuai mimpi lama yang tertunda. tapi sejauh ini, aku hanya menemukan pertanyaan-pertanyaan baru yang terus memburu tentang eksistensi diriku di sini. selama ini aku mencari pengakuan, mencari lingkungan yang membuat aku merasa yakin pada diriku sendiri, mencari komunitas yang sungguh-sungguh menghargai aku sebagai manusia yang punya sesuatu yang beda dari orang lain, dan mencari pengakuan bahwa aku dibutuhkan. sayangnya, sampai saat ini aku belum juga mendapatkan itu semua. aku tetap saja bayang-bayang yang hilang di malam hari, dan tersapu tubuh-tubuh nyata di siang hari. aku hanya ada ketika semua orang tiada, dan aku diakui ketika semua orang tak lagi bisa dicari.

aku berharap hari ke depan ada perubahan, walaupun aku tahu, sampai mati pun aku tak pernah akan diakui di sini, karena dari awal sudah “dicanangkan” bahwa aku akan dianggap tidak tahu apa-apa, dianggap bodoh, dianggap tidak punya pengalaman sama sekali. dan aku rasa, catatan awal itu masih akan tetap berlaku meski aku sudah bercokol di sini sekian lama, meski itu tidak berlaku bagi orang lain.

karena aku adalah orang pinggiran di antara orang-orang hebat di sekelilingku…

this night i find out that no matter how hard i try it would never be enough.

ternyata yang aku pikir bisa dengan mudah aku lupakan, tak bisa ! bahwa setiap saat semua bayangan masa lampau dan angan-angan yang melambung saling bersimpang-siur di kepala. dia dekat tapi tak cukup dekat untuk dibilang dekat. dia tersentuh, tapi tak cukup nyata untuk disentuh. setiap hari aku hidup dalam dunia khayalan yang indah tapi aku tahu itu hanya sementara.

hanya permainan.. itu kata gita gutawa.. yeah, permainan yang aku ciptakan sendiri dan aku nikmati walaupun aku tahu suatu saat entah kapan pasti akan berakhir. dan ketika itu terjadi, aku harus melepas semuanya tanpa kecuali, hanya bisa mengenang, bahwa di suatu saat di masa lalu aku pernah mengalami mimpi yang indah dan membuatku bahagia karena senyumnya, karena mampu menyelaminya, karena melihat dia bahagia.

mungkin, ketika saat itu tiba, aku akan hancur berkeping-keping sekali lagi. semoga untuk yang terakhir kalinya. kemudian aku tak lagi ingin bermain-main atas nama apapun. dan kau akan lihat aku berdiri tegar meski aku habis dan semua mimpi terbang sia-sia.

selesai semua.. tamat..

malam lewat tengah malam, 01.11 wib, dan aku baru saja memutus bacaanku (yang akhirnya baru smpat aku baca) “Laskar Pelangi” buku pertama, belum selesai tapi setidaknya masih saja isinya menarik dan menghanyutkan.

semangat yang ada dalam buku itu sebenarnya cukup bisa memotivasi semangatku, jika kondisiku normal. tapi sayangnya kondisiku sedang tidak normal. kata andrea hirata, penyakit gila itu ada 44 tingkat, makin kecil angka makin gawat kondisinya. aku pikir, mungkin aku sudah mencapai level nomor 10 or malah nomor 5??

sepertinya putus asa sekali jika aku tidak bisa normal lagi, bahkan tingkat penyakit gilaku nambah jadi lebih kecil. tapi yaah.. namanya juga sedang tidak normal, jd yaah.. susah juga mau dibilang apa..

aku belum tahu aku bisa normal kapan lagi, semoga dalam waktu dekat ini aku bisa jadi normal lagi, atau setidaknya level penyakit gila-ku berkurang. sebab jika tidak, aku tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menghadapi hidupku yang serba abu-abu belakangan ini.

inilah langkah, yang indah meski sesaat

inilah langkah, yang tak pernah terlupakan meski sekejap

inilah langkah, ketika cinta tidak harus memiliki

inilah langkah, ketika melihatnya tersenyum adalah yang terindah

inilah langkah, ketika terima kasih tak lagi dibutuhkan

inilah langkah, ketika tanpa bicara aku seolah memahami

inilah langkah, ketika aku tak lagi peduli jawaban semua mimpiku

inilah langkah, yang semampuku aku susun meski berat

dan inilah langkah atas nama cinta tak bersyarat.

apatis adalah sebuah reaksi yang segera akan aku pilih. bukan karena aku tidak peduli lagi, tapi karena aku takut terlalu peduli hingga malah dianggap bicara tidak pada tempatnya.

aku menyerah pada tuduhan-tuduhan yang terasa mengulitiku, menyudutkan aku seolah aku seorang yang melakukan kesalahan besar tak termaafkan. selesai sudah semua, dan aku tidak ingin lagi sakit hati meski atas nama kebaikan (menurutku).